A. Sekilas
Teori Client-Centered
Meskipun
terkenal sebagai pendiri terapi client-centered,
Carl Rogers mengembangkan sebuah teori kepribadian humanistik yang tumbuh dari
pengalaman-pengalamannya sebagai praktisi psikoterapi. Rogers adalah seorang
terapis bersemangat yang agak enggan berteori (Rogers, 1959). Dia lebih suka
membantu orang daripada menemukan kenapa mereka bersikap demikian.
Seperti
banyak teoretis kepribadian lainnya, Rogers membangun teorinya berdasarkan
pengalaman sebagai terapis. Namun tidak seperti teoretisi lain, dia terus
melakukan riset empiris untuk mendukung teori kepribadiannya maupun pendekatan
terapinya. Mungkin lebih dari pada terapis-teoretisi lainnya, Rogers (1986)
mendukung kesetimbangan antara studi-studi emosi dan kognitif agar dapat
mengembangkan pengetahuan kita tentang bagaimana persisnya manusia merasa dan
berpikir.
Selama
tahun 1950-an, di pertengahan kariernya, Rogers diundang untuk menulis apa yang
kemudian disebut “teori kepribadian yang berpusat pada klien” (client-centered theory of personality).
B. Biografi
Carl Rogers
Carl
Ransom Rogers lahir pada 8 januari 1902 di Oak Park, Illinois, anak keempat
dari enam bersaudara yang lahir dari pasangan Walter dan Julia Cushing Rogers.
Rogers
memiliki cita-cita untuk menjadi petani, dan setelah lulus dari SMA dia masuk
ke University of Wisconsin jurusan pertanian. Namun tak berapa lama kemudian
dia mulai bosan dengan pertanian dan lebih tertarik kepada agama. Rogers
terlibat sangat dalam dengan aktivitas-aktivitas keagamaan di kampus dan
menghabiskan waktu sampai 6 bulan berkeliling ke China untuk menghadiri
konferensi agama bagi mahasiswa.
Pada
1924, Rogers masuk ke sekolah Union
Theological Seminary di New York dengan niat menjadi pendeta. Ketika
tinggal di seminari, dia mengikuti beberapa perkuliahan psikologi dan
pendidikan di Columbia University dekat tempat tinggal. Disana dia sangat
terkesan oleh kemajuan perkembangan pendidikan John Dewey yang begitu kuat
mendominasi fakultas keguruan universitas tersebut.
Pada
tahun 1927, Rogers bekerja sebagai rekanan di Institute for Child Guidance yang baru didirikan di New York City
dan terus bekerja di sana sambil menyelesaikan gelar doktoralnya. Rogers
menerima gelar Ph.D. dari Columbia pada 1931 setelah pindah ke New York untuk
bekerja di Rochester Society for the
Prevention of Cruelty to Children.
Karena
mendapat tekanan dan tuntutan dari mahasiswa-mahasiswa S-2 yang diajarnya,
Rogers secara bertahap mulai mengonseptualisasikan ide-idenya tentang
psikoterapi yang tidak dimaksudkannya sebagai sebuah teori yang unik apalagi
kontroversial. Ide-ide ini ditulisnya dalam Counseling
and Psychotherapy, terbit tahun 1942.
Pada
1944, sebagai akibat dari pecahnya perang, Rogers pindah kembali ke New York
sebagai direktur pelayanan konseling bagi United
Services Organization. Setelah bekerja satu tahun disana, dia mengambil
sebuah posisi di University of Chicago, dimana dia mendirikan sebuah pusat
konseling dan memiliki kebebasan lebih besar untuk meneliti proses dan hasil
psikoterapi.
Rogers
menerima banyak penghargaan semasa kehidupan profesionalnya yang cukup lama.
Dia menjadi presiden pertama American
Association for Applied Psychology dan membantu organisasi ini kembali
menyatu dengan American Psychology
Association (APA). Atas jerih payahnya itu, dia dipercayai menjadi presiden
APA untuk periode 1946-1947 dan kemudian dipercaya menjadi presiden pertama American Academy of Psychotherapists. pada
1956 dia menjadi pemenang bersama psikolog lain dalam Distinguished Scientific Contribution Award yang pertama kali
diadakan APA. Penghargaan ini sangat memuaskan Rogers karena itu berarti
pengakuan terhadap kemampuannya sebagai periset, sebuah kemampuan yang sudah
dipelajarinya baik-baik sejak dia masih seorang anak kecil yang tinggal
disebuah pertanian di Illinois (O’Hara, 1995).
Rogers
awalnya tidak begitu memperhatikan kebutuhan untuk menyusun sebuah teori
kepribadian. Demi memuaskan kebutuhan batinnya untuk dapat menjelaskan fenomena
yang sedang di observasinya itulah, maka dia mengembangkan teorinya sendiri
yang pertamakali di uji cobakan dalam agenda APA ketika dia menjadi presidennya
(Rogers, 1947). Teorinya lebih disempurnakan dalam Client-Centered Therapy (1951) dan diungkapkan lebih detail lagi
dalam edisi Koch (Rogers, 1959). Namun begitu, Rogers selalu menekankan bahwa
teori mestinya tetap bersifat tentatif dan dengan pemikiran seperti inilah kita
mestinya mendekati diskusi tentang teori kepribadian Rogerian.
C.
Teori Person-Centered
Meskipun
konsep kemanusiaan Rogers pada dasarnya tidak berubah sejak awal 1940-an sampai
meninggalnya pada 1987 namun, terapi dan teorinya sudah mengalami beberapa
perubahan nama. Selama tahun-tahun awal itu, pendekatan disebut “non-direktif”,
sebuah istilah yang tidak begitu keren yang terus diasosiasikan dengan namanya
untuk yang cukup lama. Kemudian, nama pendekatannya mulai diganti menjadi “client-centered”,
“person-centered”, “student-centered”, dan “person to person”. Kita sendiri menggunakan istilah “client-centered” jika membahas sistem
terapi Rogers, dan istilah person-centered
jika membahas teori kepribadian Rogers.
a. Asumsi-asumsi
dasar
Rogers merumuskan dua asumsi besar,
yaitu kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi.
a) Kecenderungan
formatif
Rogers (1978, 1980) yakin bahwa terdapat
kecenderungan bagi semua hal, baik organis maupun anorganis, untuk berkembang
dari suatu bentuk yang lebih sederhana menuju lebih kompleks. Bagi seluruh alam
semesta ini, proses kreatiflah, jadi bukan proses disintegratif yang bekerja.
Rogers menyebut proses ini kecenderungan formatif dan mengambil banyak contoh
dari alam. Contohnya, galaksi bintang-bintang yang kompleks terbentuk dari
massa yang awalnya kurang begitu terorganisasikan, kristal-kristal seperti
butiran salju muncul dari uap yang tidak berbentuk, organisme yang kompleks
berkembang dari satu sel tunggal, dan kesadaran manusia berkembang dari alam
bawah sadar primitif menjadi alam sadar yang sangat terorganisasikan.
b) Kecenderungan
mengaktualisasi
Namun asumsi yang lebih signifikan dan
menyentuh banyak hal adalah kecenderungan mengaktualisasi atau kecenderungan
disemua manusia (hewan dan tumbuhan juga) untuk bergerak menuju pelengkapan
atau pemenuhan potensi-potensi (Rogers, 1959, 1980). Kecenderungan ini satu-satunya
motif yang dimiliki manusia. Kebutuhan untuk memuaskan rasa lapar,
mengekspresikan emosi-emosi mendalam yang dirasakan, dan menerima diri
seseorang, semuanya ini contoh motif tunggal aktualisasi. Karena seiap orang
beroperasi sebagai satu organisme yang lengkap, maka aktualisasi melibatkan
keseluruhan pribadi tersebut, fisiologis dan intelektual, rasional dan
emosional, alam sadar dan bawah sadar.
b.
Diri dan aktualisasi diri
Menurut rogers
(1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar-samar ketika satu porsi
pengalaman mereka menjadi terpesonalkan dan terbedakan dalam kesadaran sebagai
pengalaman ke-“aku”-an ke-“saya”-an.
Aktualisasi-diri
berbeda dengan dari kecenderungan-mengaktualisasi karena keduanya tidak
sinonim. Kecenderungan-mengaktualisasi mengacu pada penghayatan organismik
terhadap individualitas, yakni mengacu pada keseluruhan pribadi-sadar dan bawah
sadar, fisiologis, dan kognitif-sedangkan aktualisasi diri adalah kecenderung
mengaktualisasikan diri seperti yang dipahaminya dalam kesadarannya. Rogers
merumuskan subsistem diri menjadi dua yaitu, aktualisasi diri dan diri-ideal.
Konsep diri
mencakup semua aspek keberadaan diri dan pengalaman seperti yang dipahami oleh
kesadaran seorang individu, konsep-diri tidak sama dengan diri-organismik.
Porsi diri-organismik bisa melampaui kesadaran seseorang, atau sebaliknya, dia
tidak memiliki kesadaran semacam itu.
Diri ideal,
didefinisikan sebagai pandangan seseorang tentang dirinya seperti yang
diharapkannya demikian. Diri ideal mengandungsemua atribut yang biasanya
positif, mendorong seseorang untuk memilikinya.
c.
Kesadaran (awareness)
Rogers (1959)
mendefiinisikan kesadaran sebagai “representasi simbolik (yang tidak mesti terperangkap dalam
simbol-simbol verbal) dari sejumlah pengalaman kita”. Istilah kesadaran ini
sering disinonimkan Rogers dengan alam sadar dan simbolisnya.
a) Tingkat-tingkat
kesadaran
Ø Beberapa
peristiwa dialami manusia dibawah ambang kesadararannya, danbisa diabaikan atau
disangkal.
Ø Sejumlah
pengalaman disimbolkan secara akurat dan diakui dengan bebas menjadi bagian
dari struktur-diri. Pengalaman seperti ini tidak begitu mengancam dan konsisten
dengan konsep-diri yang sudah ada.
Ø Kesadaran
melihat pengalaman yang dipahami dalam bentuk terdistorsi. Saat pengalaman kita
tidak konsisten dengan pandangan tentang diri, kita membentuk kembali atau
mendistorsi pengalaman tersebut agar bisa disimilasikan kedalam konsep-diri
kita yang ada.
c) Penyangkalan
terhadap pengalaman-pengalaman positif
Banyak orang mengalami kesulita
untuk menerima pujian tulus dan dukungan positif, bahkan meskipun mereka layak
mendapatkannya. Pujian meski dilontarkan dengan tulus, jarang memeberikan
pengaruh positif bagi konsep-diri penerimannya. Pujian bisa terdistorsi karena
pribadi tersebut tidak mempercayai pemberinnya, atau karea penerimannya merasa
tidak layak mendapatkannya. Di semua kasus pujian dari orang lain juga
mengandung hak pribadi penerimannya untuk mengkritik atau menuduh balik, dan
karenannya pujian sering diangggap sebagai ancaman.(Rogers,1961).
d.
Menjadi seorang pribadi
Rogeres
(1959) membahas proses yang di butuhkan untuk menjadi seorang pribadi. Yaitu
seorang individu harus melakukan kontak-positif atau negatif- dengan pribadi
lain.
Anggapan
positif adalah prasyaratan bagi anggapan diri positif, di definisikan sebagai
pangalaman menghargai atau menilai diri seseorang. Sumber angggapan diri
positif, terletak dalam anggapan positif yang di terima dari orang lain, namun
jika sekali saja kebutuhan terpenuhi, dia akan menjadi mandiri dan mencukupi dirinya
sendiri.
e.
Penghalang-penghalang bagi kesehatan
psikologis
·
Kondisi berharga
Sebagai pengganti dari menerima
anggapan positif tanpa syarat, kebanyakan orang hanya menerima kondisi berharga
saja. Kondisi berharga muncul ketika anggapan positif dari orang-orang penting
bagi kita adalah bersyarat, ketika individu merasa bahwa dalam beberapa hal dia
di hargai dan beberapa hal lain tidak. (Rogers, 1959,hlm.209).
·
Ketidak kongruenan
Ketidak seimbangan psikologis
dimulai ketika kita gagal untuk menyadari pengalaman-pengalaman keorganisme-an
kita sebagai pengalaman-diri: artinya jika kita tidak menyimbolkan secara
akurat pengalaman penghayatan organismik tersebut menjadi kesadaran karena
mereka tampak tidak konsisten dengan konsep diri kita.
Semaki besar ketidak kongruenan
antar diri yang kita pahami dan penghayatan organismik kita, semakin rapuhlah
diri kita. Jika kerapuhan datang saat kita tidak menyadari ketidakkongruenan
diri kita, maka kecemasan dan ancaman akan di alami saat kita meraih kesadaran
tentang ketidak kongruenan seperti itu.
·
Pertahanan diri
Pertahanan diri adalah perlindungan
terhadap konsep-diri terhadap kecemasan dan ancaman lewat penyangkalan atau
pendistorsian pengalaman-pengalaman yang konsisten dengannya. Dua
pembelaan-diri yang utama adalah distorsi dan penyangkalan.
·
Disorganisai
Disorgisasi dapat muncul tiba-tiba,
atau berlangsung secara bertahap untuk waktu yang cukup lama. Dalam kondisi
disorganisasi ini orang kadang-kadang bersikap konsisten dengan penghayatan
organismik mereka dan kadang-kadang bersesuaian dengan konsep-diri yang mereka
lindungi.
D.
Psikoterapi
Terapi
client-centered ingin agar pribadi yang rapuh atau cemas dapat tumbuh sehat
secara psikologis, tetapi mereka harus menjalin kontak dengan terapis yang
kongruen dan yang memahami terapis sebagai penyedia atmosfer penerimaan tanpa
syarat dan empati akurat. Namun, kualitas kongruensi, anggapan positif tanpa
syarat, dan pemahaman empatik tidak mudah untuk disediakan konselor.
Terapi ini
dapat diproposisikan dalam bentuk jika-maka. Jika kondisi-kondisi kongruensi
terapi, anggapan positif tanpa syarat, dan keakuratan empati hadir dalam
hubungan klien-konselor, maka proses terapi akan terjadi dengan baik dan
kemudian hasilnya akan dapat diprediksi. Terapi Rogerian dapat dilihat
berdasarkan kondisi, proses, dan hasil-hasilnya.
a. Kondisi-Kondisi
Kondisi-kondisi
berikutdiperlukan dan harus cukup. Pertama, seorang klien yang cemas dan rapuh
harus menjalin kontak dengan terapis yang kongruen yang memiliki empati dan
anggapan positif tanpa-syarat terhadap dirinya. Kedua, klien harus memahami
jika ciri ini (kongruen, berempati, dan beranggapan positif tanpa syarat)
dimiliki oleh terapis. Ketiga, kontak antara klien dan terapis harus terjadi
dalam durasi tertentu.
Signifikansi
hipotesis Rogerian ini sangat revolusioner. Dihampir setiap terapi, kondisi
pertama dan ketiga selalu muncul. Artinya klien termotivasi, dan hubungan klien
dan terapis akan berlangsung dalam periode waktu tertentu.
Terapis
client sentered unik dalam penekanannya bahwa kondisi kongruensi konselor,
anggapa positif tanpa syarat, dan mendengarkan secara empatis dibutuhkan
sekaligus menjadi alasan yang cukup. Meskipun kongruensi lebih mendasar.
a) Kongruensi Konselor
Kongruensi
muncul ketika penghayatan organismik seseorang cocok dengan kesadaran akan
pengalaman-pengalaman tersebut, dan juga cocok dengan kemampuan dan kesediaan
untuk mengekspresikan secara terbuka perasaan-perasaan ini (Rogers, 1980).
Menjadi kongruen berarti menjadi apa adanya pribadi tersebut. Kalau begitu
konselor yang kongruen itu tidak bersifat pasif, maupun statis. Mereka secara
konstan terbuka kepada pengalaman-penghayatan organismik baru, namun menerima
ini dengan kesadaran, dan jujur, yang memberikan kontribusi bagi pertumbuhan
psikologisnya.
Karena
kongruensi muncul dari perasaan, kesadaran, dan ekspresi. Maka
ketidakkongruenan dapat muncul dari dua titik yang membedakan ketiga pengalaman
itu. Pertama, karena keterputusan hubungan antara perasaan dan kesadaran.
Seseorang tidak tahu kalau dirinya sedang marah, namun orang lain merasakan
dengan jelas kalau dia sedang marah. Kedua,pertentangan antara kesadaran
terhadap pengalaman, dan kemampuan atau kesediaan untuk mengekspresikannya
kepada orang lain. Seseorang tahu kalau dirirnya sedang bosan, tapi tidak mampu
mengekspresikannya kepada orang lain. Rogers (1961) menegaskan bahwa terapis
akan lebih efektif kalau mereka mengekspresikan perasaan-perasaan mereka yang
sebenarnya, meskipun perasaan itu bernada negatif atau mengancam. Semakin klien
memahami setiap kualitas sebagai ciri terapis, semakin berhasil proses terapi
jadinya.
b) Anggapan Positif Tanpa-Syarat
Anggapan positif adalah kebutuhan untuk menjadi
disukai, dihargai, atau diterima orang lain. Jika kebutuhan ini dipenuhi tanpa
persyaratan maka akan muncul anggapan positif tanpa-syarat. Terapis memiliki
anggapan positif tanpa-syarat ketika mereka "mengalami sikap hangat,
positif, dan penuh penerimaan tehadap klien apa adanya dirinya. Sikap ini tanpa
posesif, pengevaluasian atau persyaratan apapun.
Memiliki kehangatan yang tidak posesif berarti
memerhatikan orang lain tanpa berkeinginan menguasai pribadi tersebut. Jenis
sikap permisif, fakta bahwa aku memerhatikanmu tidak berarti aku harus
menuntunmu membuat pilihan-pilihan, membuat Rogers memperoleh reputasi sebagai
terapis yang pasif atau nondirective.
Meskipun anggapan positif tanpa-syarat merupakan
istilah yang agak menakjubkan namun masing-masing dari ketiga kata ini memiliki
proporsi penting. "Anggapan" berarti terjadi sebuah hubungan yang
dekat dan bahwa terapis melihat klien sebagai pribadi yang penting;
"Positif" berarti arah relasi ditujukan kepada perasaan hangat dan
perhatian; dan "tanpa syarat" bararti anggapan positif ini tidak lagi
bergantung pada tindakan tertentu klien yang harus terus-menerus diupayakan.
c) Mendengarkan secara Empatik
Empati mucul saat terapis seraca akurat merasakan
perasaan-perasaan klien dan sanggup mengkomunikasikan persepsi-persepsi ini
sehingga klien tahu bahwa orang lain sudah memasuki dunia perasaan mereka tanpa
prasangka, proyeksi, ataupun penghakiman.empati berarti bahwa terapis melihat
hal-hal dari sudut pandang klien dan klien merasa aman. Mendengarkan secara
empirik adalah piranti yang berpengaruh sangat kuat dan bersama dengan
kesungguhan dan perhatian terapis, dapat memfasilitasi pertumbuhan kesehatan
pribadi klien.
Empati tidak boleh dicampur dengan simpati. Simpati
mengacu pada perasaan terhadap klien. Sedang empati mununjuk perasaan bersama
klien. Simpati tidak pernah menjadi alat terapi yang baik karena dia berasal
dari evaliasi eksternal dan biasanya mengarah kepada rasa penyesalan klien pada
dirinya. Mengasihani diri ( self-pity) adalah sikap keliru yang mengancam
konsep diri positif dan menciptakan ketidakseimbangan dalam struktur diri
manusia. Karena itu, empati tidak menyuruh terapis memiliki perasaan yang sama
seperti kliennya melainkan ia menyingkapkan kepada klien pengertian apa artinya
pengalaman tersebut bagi klien pada momen tertentu.
b. Proses
a) Tahap-tahap Perubahan Terapi
1. Ketidakrelaan klien untuk mengkomunikasikan apapun
tentang dirinya. Pribadi ditaham ini biasanya tidak mencari bantuan namun, jika
untuk beberapa alasan mereka datang ke terapi, biasanya mereka sangat rigid dan
resisten terhadap perubahan. Mereka tidak mengakui adanya masalah yang
menimpanya dan menolak untuk mengungkapkan perasaan atau emosinya.
2. Klien menjad agak kurang ketat. Mereka mulai membahas
peristiwa eksternal dan orang lain, tetapi masih tidak mengakui atau gagal
memahami perasaan-perasaan mereka sendiri. Nemun, mereka sudah mulai dapat
membahas tentang perasaan-perasaan pribadi seolah-olah perasaan itu fenomena
objektif.
3. Mereka menjadi bebas untuk membahas tentang diri
mereka, meskipun menjadi objek. Klien membicarakan perasaan-perasaan dan
emosi-emosinya dengan menggunakan model kalimat past tense atau future tense,
menghindarkan emosi dan perasaan saat ini.
4. Mulai membicarakan perasaan-perasaan lebih dalam namun
tak satupun tentang yang dirasakan sekarang. Saat klien mengekspresikan
perasaan-perasaannya saat ini, mereka biasanya terkejut dengan ungkapan ini.
Mereka mungkin menyangkal atau mendistorsi pengalaman-pengalaman, meskipun
memiliki juga beberapa kesadaran samar-samar bahwa mereka sanggup merasakan
emosi di masa kini. Mereka mulai mempertanyakan sejumlah introyeksikannya dari
orang lain, dan mereka mulai melihat ketidakkongruenan antara diri yang
dipahami dan penghayatan organismiknya. Mereka menerima lebih banyak kebebasan
dan tanggung jawab dari yang sudah mereka lakukan ditahap 3 dan mulai
mengizinkan dirinya secara tentatif untuk terlibat dalam hubungan dengan
terapis.
5. Klien mulai menjalani perubahan dan pertumbuhan yang
signifikan. Mereka dapat mengekspresikan perasaan-perasaan saat ini, meskipun
tidak menyimbolkan secara akurat perasaan ini. Mereka mulai mengandalkan lokus
internal evaluasi bagi perasaan mereka dan melakukan penemuan yang segar dan
baru tentang diri mereka sendiri. Mereka juga mengalami pembedaan lebih besar
perasaan-perasaan yang mengembangkan apresiasi yang lebih basar bagi
nuansa-nuansa di antara mereka. Selain itu mereka mulai membuat
keputusan-keputusan mereka sendiri dan menerima tanggung jawab bagi
pilihan-pilihan mereka.
6. Mengalami pertumbuhan dramatis dan pergerakan yang
tidak dapat dibalikkan lagi, menjadi berfungsi atau mengaktualisasikan diri
sepenuhnya. Mereka mengizinkan pengalaman-pengalaman yang sebelumnya disangkal
atau didistorsi masuk kedalamkesadaran dengan bebas. Mereka menjadi lebih
kongruen dan sanggup mencocokan pengalaman saat ini dengan kesadaran dan dapat
mengekspresikan nya secara terbuka. Ereka tidak lagi mengevaluasi perilaku
mereka dari sudut pndang eksternal melainkan mulai mengandalkan diri organismik
mereka sebagai kriteria bagi pengevaluasian pengalaman. Mereka mulai
mengembangakan anggapan diri tanpa syarat, yang artinya memiliki rasa perhatian
dan sayang yang sejati bagi diri baru yang sudah terbentuk saat ini. Tambahan
yang menarik bagi tahap ini adalah ralaksasi fisiologisnya. Klien dapat
mengalami seluruh diri-organismik mereka, seperti mengendurnya urat syaraf,
menglirnya air mata, perbaikan sirkulasi darah, dan kehilang simtom-simtom
fisik. Tahap ini menjadi sinyal bagi tujuan terapi. Bahkan jika terapi berhenti
di titik ini, klien akan terus bergerak maju ke tahap berikutnya.
7. Dapat terjadi diluar pertemuan, karena pertumbuhan
ditahap 6 tidak dapat dibalikkan lagi. Klien yang mencapai tahap ini menjadi
berfungsi sepenuhnya sebagai "pribadi hari esok". Mereka sanggup
menggeneralisasi pengalaman-pengalaman terapi ke dunia diluar terapi. Mereka
memiliki keyakinan untuk menjadi diri sendiri disemua waktu, untuk memiliki,
dan merasakan secara mendalam totalitas pengalaman mereka, dan untuk menghidupkan
pengalaman-pengalaman tersebut di masa kini. Klien ditahap ini menjadi
kongruen, anggaan diri positif tanpa-syarat, dan sanggup mencintai dan
memberikan empati kepada orang lain.
Penjelasan Teoritis bagi
Perubahan Terapi
Ketika seseorang mulai mengalami diri mereka dihargai
dan diterima tanpa syarat, mereka menyadari, mungkin untuk pertama kalinya
bahwa mereka dicintai. Contoh yang diberikan terapis memampukan mereka untuk
menghargai dan menerima diri mereka sendiri, memiliki penghargaan-diri positif
tanpa syarat. Karena klien tahu bahwa mereka dipahamisecara empatis, mereka
jadi terbebas untuk mendengarkan dirinya sendiri secara lebih akurat, memiliki
empati bagi perasaannya sendiri, sehingga lebih kongruen.
c. Hasil-Hasil
Hasil
paling besar dari terapi client centred adalah klien menjadi kongruen, tidak
legi defensif, dan lebih terbuka terhadap pengalaman. Karena klien menjadi
kongruen dan tidak lagi defensif, mereka memiliki gambaran yang lebih jelas
tentang dirinya, sebuah pandangan yang lebih realistik untuk menghadapi dunia.
Karena
menjadi realistik maka klien memiliki pandangan yang lebih akurat mengenai
potensi-potensi mereka, memampukan mereka menyempitkan jurang antara diri ideal
dan diri riil.
Karena
diri ideal dan diri riil lebih kongruen, maka klien mengalami ketegangan
fisiologis dan psikologis yang semakin berkurang, kurang begitu rapuh terhadap
ancaman, dan mengalami penurunan tingkat kecemasan.
Hubungan
mereka dengan orang lain juga berubah. Mereka menjadi lebih menerima orang
lain, membuat tuntutan yang lebih kecil, dan membiarkan orang lain menjadi
dirinya sendiri. Anggapan diri positif yang sejati dan pemahaman emptik mereka
akan terus berkembang di luar terapi, dan mereka menjadi lebih sanggup
berparisipasi dalam hubungan lain yang mendorong pertumbuhan (Rogers, 1959,
1961).
E. Teori Perubahan Terapi Rogers
Jika
kondisi-kondisi berikut hadir:
1. Klien yang rapuh atau cemas
2. Menhubungi konselor yang memiliki
3. Kongruensi dalam hubungan
4. Anggapan positif tanpa-syarat terhadap klien
5. Pemahaman empatik terhadap kerangka acuan internal
klien; dan
6. Klien memahami kondisi 3,4, dan 5- tiga kondisi yang
dibutuhkan dan cukup bagi pertumbuhan terapi
Maka
perubahan terapi akan terjadi dan klien akan:
1. Menjadi kurang kongruen;
2. Kurang begitu defensif;
3. Jadi lebih terbuka kepada pengalaman;
4. Memiliki pandangan yang lebih realistik terhadap
dunia;
5. Mengembangkan anggapan diri yang positif
6. Menyempitkan jurang diri ideal dan diri-riil;
7. Tidak rapuh lagi terhadap ancaman;
8. Menjadi berkurang kecemasannya;
9. Mulai meresapi pengalaman-pengalamannya sendiri;
10. Menjadi lebih menerima keberadaan orang lain; dan
11. Menjadi lebih kongruen dalam hubungannya dengan orang
lain.
F.
Manusia Masa Depan
Keterikatan yang
ditujukan Rogers pada seseorang yang sehat secara psikologis memiliki
pertentangan hanya dengan pandangan Maslow. Maslow pada dasarnya merupakan
peneliti, sedangkan Rogers utamanya adalah psikoterapis yang perhatiannya
terhadap manusia yang sehat secara psikologis tumbuh dari teori umum terapinya.
Pada tahun 1951, Rogers pertama kali mengemukakan “karakteristik dari
kepribadian yang telah termodifikasi”, ia kemudian memperluas pada konsep
manusia yang berfungsi sepenuhnya dalam sebuah jurnal yang tidak dipublikasikan
(Rogers dalam Feist). Pada tahun 1959, teorinya tentang kepribadian yang sehat
dijelaskan dalam seri buku Koch, dan ia sering kembali ke topik selama awal
tahun 1960-an ( Rogers dalam Feist). Beberapa saat setelahnya, ia kemudian
mendeskripsikan tentang dunia masa depan dan manusia masa depan (Rogers dalam
Feist)
Tipe orang yang akan
muncul sebagai keluaran adalah, pertama, orang yang sehat secara psikologis
akan lebih mudah beradaptasi. Oleh karena itu, sudut pandang evolusi, mereka
mempunyai kemungkinan untuk bertahan inilah yang mendasari judul “manusia masa
depan”. Kedua, manusia-manusia masa depan akan lebih terbuka atas
pengalaman-pengalaman mereka, secara akurat mensimbolisasikan pengalaman
tersebut dalam kesadaran daripada melakukan penyangkalan dan distorsi.
Karakteristik terkait dari manusia masa depan adalah kepercayaan mereka atas
diri organismik mereka. Ketiga, kecenderungan untuk hidup sepenuhnya pada masa
sekarang. Oleh karena orang-orang tersebut lebih terbuka terhadap
pengalamannya, mereka akan mengalami kondisi perubahan yang konstan. Keempat,
manusia masa depan akan tetap percaya terhadap kemampuan diri mereka untuk
merasakan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Mereka tidak akan merasa
perlu untuk disukai atau dicintai oleh semua orang karena tahu bahwa mereka
dihargai dan diterima oleh seseorang.
Kelima, manusia masa depan akan lebih terintegrasi, lebih utuh, tanpa
batasan-batasan buatan antara proses kognitif yang dilakukan secara sadar
ataupun tidak. Keenam, manusia masa depan mempunyai kepercayaan pada
kemanusiaan. Mereka tidak akan menyakiti orang lain hanya untuk kepentingan
pribadi, peduli pada orang lain dan akan siap membantu apabila diperlukan.
Terakhir, karena manusia masa depan terbuka dengan semua pengalaman, mereka
akan lebih menikmati kekayaan hidup daripada orang lain. Mereka tidak
mendistorsi stimulus internal maupun menahan emosi mereka.
G.
Filosofi Ilmu Pengetahuan
Menurut Rogers (dalam
Feist), ilmu pengetahuan bermula dan berakhir dengan pengalaman subjektif
walaupun semua yang ada diantara harus objektif dan empiris. Ilmuwan harus
mempunyai karakteristik manusia masa depan, yaitu mereka harus terdorong untuk
melihat ke dalam, untuk selaras dengan perasaan dan nilai internal, untuk dapat
menjadi intuitif dan kreatif, untuk terbuka pada pengalaman, untuk menerima
perubahan, untuk mempunyai pandangan yang baru, serta untuk memiliki
kepercayaan yang penuh atas diri mereka.
Rogers (dalam Feist)
meyakini bahwa ilmuwan harus secara utuh terlibat dalam fenomena yang sedang
mereka kaji. Ilmu pengetahuan dimulai saat seorang ilmuwan yang intuitif mulai
untuk melihat suatu pola dalam sebuah fenomena. Pada titik ini, metodologi
mulai masuk dalam gambaran besar. Walaupun kreatifitas dari ilmuwan dapat membuahkan
metode penelitian yang inovatif, prosedur tersebut harus secara ketatdikontrol,
empiris, dan objektif. Ilmuwan kemudian mengomunikasikan penemuan dari metode
tersebut kepada orang lain, tetapi komunikasi tersebut akan bersifat subjektif.
H.
The Chicago Studies
Sejalan dengan filosofi
ilmu pengetahuannya, Rogers tidak memperbolehkan metodologi untuk mendikte
bentuk penelitiannya. Dalam penelitian atas hasil dari psikoterapi yang
berpusat pada klien, pertama di Pusat Konseling di Universitas of Chicago (Rogers&Dymond
dalam Feist) dan kemudian dengan pasien Skizofrenia di University of Wisconsin
(Rogers, Gedlin, Kiesler&Truax dalam Feist), ia dan koleganya membiarkan
permasalahan mempunyai tempat sebelum metodologi dan pengukuran. Mereka tidak
merumuskan hipotesis hanya karena alat ukurnya sudah tersedia. Tujuan dari
Chicago Studies adalah untuk meneliti proses dan hasil dari terapi yang
berpusat pada klien.
a. Hipotesis
Penelitian pada
University of Chicago Counseling Center dibangun dengan landasan hipotesis dasar
yang berpusat pada klien, yang menyatakan bahwa semua orang memiliki, di dalam
diri mereka, kapasitas, baik bersifat aktif maupun laten, untuk melakukan
pemahaman diri serta kapasitas dan kecenderungan untuk bergerak menuju
aktualisasi diri dan kematangan pribadi. Kecenderungan inilah yang akan dapat
disadari apabila terapis menciptakan suasana psikologis yang sesuai. Lebih
spesfiknya, Rogers (dalam Feist) berhipotesis bahwa selama terapi, klien akan
mengasimilasikan perasaan dan pengalaman yang pernah mereka tolak ke dalam
kesadaran. Ia juga memprediksikan bahwa selama dan setalah terapi, perbedaan
antara diri yang sebenarnya dengan diri ideal dapat berkurang serta dapat
diobservasi perilaku-perilaku, seperti lebih bersosialisasi, lebih menerima diri
sendiri, dan lebih menerima orang lain. Hipotesis ini kemudian menjadi landasan
dari beberapa hipotesis lain yang spesifik, yang secara operasional telah
dinyatakan dan diuji.
b. Metode
Untuk dapat mengkaji
perubahan dari sudut pandang eksternal, peneliti menggunakan Thematic
Apperception Test (TAT), The Self-Other Attitude Scale (S-O Scale), dan
Willoughby Emotional Maturity Scale (E-M Scale). Instrument TAT, tes
kepribadian objektif yang dikembangkan oleh Henry Murray (dalam Feist),
digunakan untuk melakukan tes pada hipotesis yang membutuhkan diagnosis klinis
yang standart, S-O Scale, instrument yang dikumpulkan di Counseling Center dari
beberapa sumber yang telah lebih dahulu didapatkan, untuk mengukur tren anti
demokrasi dan etnosentrisme, E-M Scale digunakan untuk membandingkan deskripsi
dari perilaku dan kematangan emosi klien yang dilihat oleh dua teman dekat dan
klien sendiri.
c. Temuan-Temuan
Peneliti
menemukan bahwa kelompok terapi menunjukkan berkurangnya pertentangan antara
diri riil dan diri ideal setelah terapi diberikan, dan mereka masih dapat
mempertahankan semua hal yang sudah dicapai terapi selama periode follow-up. Seperti diduga, kelompok
pengontrol “orang-orang” normal memiliki tingkat kongruensi lebih tinggi dari
pada kelompok terapi di awal studi, namun terbalik dengan kelompok terapi,
mereka hampir-hampir tidak menunjukkan perubahan kongruensi dari tes awal hingga
periode follow-up.
Selain itu, kelompok terapi juga mengubah konsep
diri mereka lebih sering ketimbang mengubah persepsi diri mereka lebih sering
ketimbang mengubah persepsi mereka tentang orang lain secara umum. Artinya
meskipun klien menunjukkan sedikit saja perubahan dalam konsep tentang
bagaimana tentang bagaimana rata-rata pribadi pada umumnya, namun mereka lebih
menunjukkan perubahan yang mencolok bagi persepsi tentang diri mereka sendiri.
Dengan kata lain, wawasan intelektual bukan hasil pertumbuhan psikologis (Rudikoff, dalam J. feist).
Umumnya,
teman-teman mereka melaporkan tidak ada perubahan perilaku signifikan pada diri
klien sejak periode pra-terapi hingga pasca-terapi. Namun begitu peratingan
global mengenai tidak adanya perubahan ini tampaknya berkaitan dengan efek
penyeimbangan. Klien dinilai terapis mereka memiliki skor lebih tinggi dalam
perbaikan kedewasaan pasca terapi dibandingkan penilaian teman-teman mereka.
Menariknya, sebelum menjalani terapi, klien umumnya menilai diri mereka kurang
matang ketimbang penilaian teman-teman atas diri mereka namun, seiring kemajuan
terapi, mereka mulai memberikan terapi, mereka mulai memberikan rating diri
lebih tinggi dan kemudian menjadi sama dengan penilaian teman-teman mereka.
Sementara itu, para partisipan di kelompok pengontrol tidak menunjukkan
perubahan nilai yang signifikan selama studi kedewasaan emosional oleh
teman-teman mereka (Rogers & Dymond,
1954).
d. Ringkasan
Hasil
Studi-studi
Chicago membuktikan bahwa pribadi yang menjalani terapi memulai client-centered umumnya menunjukkan
sejumlah pertumbuhan atau perbaikan. Namun begiitu, perbaikan ini masih belum
optimum. Kelompok terapi memulai treatment
(perlakuan) sebagai pribadi yang kurang begitu sehat ketimbang kelompok
control, menunjukkan pertumbuhan psikologis selama terapi berlangsung, dan
masih mempertahankan sebagian besar perbaikan selama periode follow-up. Namun tetap saja mereka tidak
bisa mencapai tingkat kesehatan psikologis seperti yang ditunjukkan orang-orang
“normal” di kelompok control.
Dengan
kata lain, hasil-hasil Studi Chicago menunjukkan bahwa pribadi yang menerima
terapi client-centered mungkin tidak
pernah dapat mendekati Tahap 7 seperti yang dihipotesiskan Rogers dalam diskusi
kita sebelumnya. Ekspektasi paling realistik hanyalah klien dapat berkembang
sampai Tahap 3 atau 4 saja. Terapi client-centered
memang efektif namun, tidak bisa menghasilkan pribadi yang berfungsi
seutuhnya seperti yang diharapkan penggagas terapi ini.
I. Riset-Riset
Terkait
Riset awal Carl Rogers mengenai tiga kondisi yang
dibutuhkan dan cukup bagi pertumbuhan psikologis bisa dianggap sebagai perintis
bagi psikologis positif. Sejak saat
itu, peneliti lain (seperti Cramer,1989,1994, 2002, Truax & Carkhuff, 1967)
sudah menemukan dukungan bagi tiga kondisi fakultatif Rogers ini. Sejak riset
yang dilakukan Rogers sendiri, beragam aspek teorinya sudah mendapatkan
sejumlah besar perhatian empiris, contohnya hubungan antara anggapan positif tanpa-syarat
denga hubungan antara anggapan positif tanpa-syarat dengan hubungan romantis,
dan hubungan antara diri-ideal dan diri-riil.