bimbingan konseling

Proses interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media : internet, atau telepon) dalam rangka mem-bantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalah yang dialaminya”.

UNNES

universitas konservasi

komputer

adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang telah dirumuskan. Kata computer pada awalnya dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Asal mulanya, pengolahan informasi hampir eksklusif berhubungan dengan masalah aritmatika, tetapi komputer modern dipakai untuk banyak tugas yang tidak berhubungan dengan matematika.

teknologi informasi

Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.

Kamis, 01 Januari 2015

Dimana tempat belajar terindahmu?

SUASANA DAN TEMPAT BELAJAR KONDUSIF

            Belajar adalah kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi. Tempat dan lingkungan belajar yang nyaman memudahkan peserta didik untuk berkonsentrasi. Dengan mempersiapkan lingkungan yang tepat, peserta didik akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan dapat menikmati proses belajar yang peserta didik lakukan. Nasution (1993), lingkungan belajar yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia dan representatifnya maupun berwujud hal-hal lain. Prestasi belajar itu salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Menata lingkungan belajar pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Aktivitas pembelajar dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu kita perlu memperhatikan penataan lingkungan belajar agar siswa mendapatkan suasana dan tempat belajar yang nyaman. Lingkungan belajar tidak hanya ketika siswa berada di sekolah saja, namun lingkungan dimana siswa bersosialisasi dengan masyarakat, keluarga juga dapat menjadi lingkungan belajar siswa.
A.  Lingkungan Rumah
Lingkungan rumah terutama orang tua, memegang peranan penting serta menjadi guru bagi anak dalam mengenal dunianya. Orang tua adalah pengasuh, pendidik dan membantu proses sosialisasi anak. Utami Munandar (1999) mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka semakin baik prestasi anak. Termasuk juga sejauh mana keluarga mampu menyediakan fasilitas tertentu untuk anak (televisi, internet, dan buku bacaan).
Lingkungan belajar di rumah mempunyai pengaruh besar terhadap kegiatan belajar anak di rumah, yang pada akhirnya mempengaruhi prestasi belajar anak di sekolah. Lingkungan belajar menurut Pidarta (1995) adalah benda-benda disekitar tempat belajar itu yang teratur rapi dan sedap dipandang serta lengkap peralatan belajarnya.
Dengan demikian lingkungan belajar yang perlu diperhatikan itu adalah ruangan belajar, cahaya penerangan, ventilasi, suhu udara, perabotan belajar, kebisingan, kursi, meja, perabotan, musik, tanaman, gambar. Karena lingkungan belajar mempunyai dampak terhadap prestasi belajar, maka De Porter (2001) menyarankan ciptakan lingkungan belajar yang optimal.
B.       Lingkungan Sekolah
Dalam proses pembelajaran, pengajar tidak lagi hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi peserta didik sendiri yang harus membangun pengetahuannya (knowledge is constructed by human). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap diterima dan diingat oleh peserta didik. Peserta didik harus mengonstruksi pengetahuannya sendiri dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Peserta didik perlu dibiasakan untuk memunculkan ide-ide baru, memecahkan masalah, dan menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya serta menciptakan dirinya menjadi diri sendiri (learning to be).
Belajar adalah merupakan proses aktif untuk membangunkan pengetahuan, dalam ide-ide konstruktif, biarkan peserta didik mengonstruksi sendiri pengetahuannya. Hal ini sejalan dengan esensi konstruktivisme bahwa peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. Apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Melihat konsep dasar tersebut, pembelajaran saat ini setidaknya menggeser paradigma dari pembelajaran yang berdasar kacamata pengajar menjadi pembelajaran yang berdasarkan kacamata peserta didik. Pengajaran merupakan suatu proses membangunkan pengetahuan dan mengkomunikasikan pengetahuan. Artinya, saat ini bukan bagaimana pengajar mengajar, tetapi bagaimana agar peserta didik dapat belajar. Pengertian belajar, menurut konstruktivisme, adalah perubahan proses mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata yang dialami peserta didik sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan yang mereka peroleh sebagai hasil interpretasi pengalaman yang disusun dalam pikirannya. Berpikir reflektif ini menjadi dasar proses konseptualisasi di dalam memahami dan mengaplikasikan pengalaman yang didapat pada situasi dan kontek yang lain. Secara psikologis, tugas dan wewenang pembelajar adalah mengetahui karakteristik peserta didik, memotivasi belajar, menyajikan bahan ajar, memilih metode belajar, dan mengatur kelas.
C.    Tips Memilih Tempat Belajar Yang Baik Dan Benar
            Sangat banyak pilihan tempat belajar yang bisa Anda dapatkan di rumah atau di luar rumah Anda. Nah, bagaimana cara memilih tempat belajar yang baik dan benar? Langsung saja kita simak yang pertama:
a.       Suasana
Apakah Anda suka suasana yang sepi atau ramai? Ada beberapa orang yang malah suka ramai saat belajar. Alasannya supaya ada yang mau ‘menemaninya’. Jika Anda ingin tempat yang suasananya sepi supaya tidak ada yang mengganggu Anda saat belajar, belajarlah di dalam kamar tidur Anda dan beritahukan kepada keluarga Anda supaya tidak mengganggu Anda selama Anda belajar. Nah, jika Anda suka suasana yang ramai, datanglah ke perpustakaan atau ajak teman-teman Anda untuk belajar bersama.
b.         Kenyamanan
Ada orang yang bisa belajar dengan ditemani bantal guling atau kursi yang nyaman, ada juga yang malah tertidur bila tempat belajar ‘terlalu nyaman’. Nah, jika Anda adalah tipikal orang yang mudah tertidur, sebaiknya Anda tidak belajar di atas kursi yang empuk apalagi di tempat tidur. Belajarlah di lantai dengan posisi badan duduk tegak atau tengkurap. Sebaliknya jika Anda memang sangat membutuhkan kenyamanan lebih untuk bisa belajar dengan baik, maka sebaiknya Anda belajar di kursi yang empuk atau di tempat tidur.
c.       Indoor atau Outdoor
Jika Anda suka belajar dengan suasana alami, ada angin segar, dan pandangan luas, sebaiknya Anda belajar di luar ruangan (outdoor). Tetapi jika Anda tidak bisa kena angin, sebaiknya Anda belajar di dalam ruangan (indoor) sebelum Anda sakit karena ‘keanginan’. Jika Anda ingin belajar di luar tetapi karena cuaca tidak memungkinkan, belajarlah di dalam dengan ditemani kipas angin.
d.      Panas atau Dingin
Panas dan dingin mempengaruhi kenyamanan belajar. Jika suasananya terlalu panas, maka Anda mungkin akan kegerahan. Jika suasananya terlalu dingin, maka Anda mungkin akan menggigil kedinginan. Jika Anda ingin belajar dengan suasana yang agak panas, belajarlah di dalam ruangan dengan mematikan AC atau kipas angin. Tetapi jika Anda ingin belajar dengan suasana yang sejuk, belajarlah di luar ruangan atau di dalam ruangan dengan menyalakan AC atau kipas angin.
e.    Bebaskanlah Diri Anda

Dalam posisi duduk memang sebaiknya ikuti aturan duduk. Tetapi jika Anda tidak nyaman dengan posisi itu, langgarlah aturan duduk tersebut tetapi dengan syarat setelah belajar Anda harus melakukan peregangan supaya tidak terjadi gangguan pada tulang. Belajar di rumah beda daripada belajar di sekolah. Di sekolah Anda harus belajar dengan posisi duduk tegak yang mungkin belum tentu nyaman bagi Anda, sementara di rumah tidak ada yang mengatur Anda mau bagaimana posisi belajarnya.

TEORI KEPRIBADIAN

A.    Sekilas Teori Client-Centered
Meskipun terkenal sebagai pendiri terapi client-centered, Carl Rogers mengembangkan sebuah teori kepribadian humanistik yang tumbuh dari pengalaman-pengalamannya sebagai praktisi psikoterapi. Rogers adalah seorang terapis bersemangat yang agak enggan berteori (Rogers, 1959). Dia lebih suka membantu orang daripada menemukan kenapa mereka bersikap demikian.
Seperti banyak teoretis kepribadian lainnya, Rogers membangun teorinya berdasarkan pengalaman sebagai terapis. Namun tidak seperti teoretisi lain, dia terus melakukan riset empiris untuk mendukung teori kepribadiannya maupun pendekatan terapinya. Mungkin lebih dari pada terapis-teoretisi lainnya, Rogers (1986) mendukung kesetimbangan antara studi-studi emosi dan kognitif agar dapat mengembangkan pengetahuan kita tentang bagaimana persisnya manusia merasa dan berpikir.
Selama tahun 1950-an, di pertengahan kariernya, Rogers diundang untuk menulis apa yang kemudian disebut “teori kepribadian yang berpusat pada klien” (client-centered theory of personality).

B.     Biografi Carl Rogers
Carl Ransom Rogers lahir pada 8 januari 1902 di Oak Park, Illinois, anak keempat dari enam bersaudara yang lahir dari pasangan Walter dan Julia Cushing Rogers.
Rogers memiliki cita-cita untuk menjadi petani, dan setelah lulus dari SMA dia masuk ke University of Wisconsin jurusan pertanian. Namun tak berapa lama kemudian dia mulai bosan dengan pertanian dan lebih tertarik kepada agama. Rogers terlibat sangat dalam dengan aktivitas-aktivitas keagamaan di kampus dan menghabiskan waktu sampai 6 bulan berkeliling ke China untuk menghadiri konferensi agama bagi mahasiswa.
Pada 1924, Rogers masuk ke sekolah Union Theological Seminary di New York dengan niat menjadi pendeta. Ketika tinggal di seminari, dia mengikuti beberapa perkuliahan psikologi dan pendidikan di Columbia University dekat tempat tinggal. Disana dia sangat terkesan oleh kemajuan perkembangan pendidikan John Dewey yang begitu kuat mendominasi fakultas keguruan universitas tersebut.
Pada tahun 1927, Rogers bekerja sebagai rekanan di Institute for Child Guidance yang baru didirikan di New York City dan terus bekerja di sana sambil menyelesaikan gelar doktoralnya. Rogers menerima gelar Ph.D. dari Columbia pada 1931 setelah pindah ke New York untuk bekerja di Rochester Society for the Prevention of Cruelty to Children.
Karena mendapat tekanan dan tuntutan dari mahasiswa-mahasiswa S-2 yang diajarnya, Rogers secara bertahap mulai mengonseptualisasikan ide-idenya tentang psikoterapi yang tidak dimaksudkannya sebagai sebuah teori yang unik apalagi kontroversial. Ide-ide ini ditulisnya dalam Counseling and Psychotherapy, terbit tahun 1942.
Pada 1944, sebagai akibat dari pecahnya perang, Rogers pindah kembali ke New York sebagai direktur pelayanan konseling bagi United Services Organization. Setelah bekerja satu tahun disana, dia mengambil sebuah posisi di University of Chicago, dimana dia mendirikan sebuah pusat konseling dan memiliki kebebasan lebih besar untuk meneliti proses dan hasil psikoterapi.
Rogers menerima banyak penghargaan semasa kehidupan profesionalnya yang cukup lama. Dia menjadi presiden pertama American Association for Applied Psychology dan membantu organisasi ini kembali menyatu dengan American Psychology Association (APA). Atas jerih payahnya itu, dia dipercayai menjadi presiden APA untuk periode 1946-1947 dan kemudian dipercaya menjadi presiden pertama American Academy of Psychotherapists. pada 1956 dia menjadi pemenang bersama psikolog lain dalam Distinguished Scientific Contribution Award yang pertama kali diadakan APA. Penghargaan ini sangat memuaskan Rogers karena itu berarti pengakuan terhadap kemampuannya sebagai periset, sebuah kemampuan yang sudah dipelajarinya baik-baik sejak dia masih seorang anak kecil yang tinggal disebuah pertanian di Illinois (O’Hara, 1995).
Rogers awalnya tidak begitu memperhatikan kebutuhan untuk menyusun sebuah teori kepribadian. Demi memuaskan kebutuhan batinnya untuk dapat menjelaskan fenomena yang sedang di observasinya itulah, maka dia mengembangkan teorinya sendiri yang pertamakali di uji cobakan dalam agenda APA ketika dia menjadi presidennya (Rogers, 1947). Teorinya lebih disempurnakan dalam Client-Centered Therapy (1951) dan diungkapkan lebih detail lagi dalam edisi Koch (Rogers, 1959). Namun begitu, Rogers selalu menekankan bahwa teori mestinya tetap bersifat tentatif dan dengan pemikiran seperti inilah kita mestinya mendekati diskusi tentang teori kepribadian Rogerian.


C.     Teori Person-Centered
Meskipun konsep kemanusiaan Rogers pada dasarnya tidak berubah sejak awal 1940-an sampai meninggalnya pada 1987 namun, terapi dan teorinya sudah mengalami beberapa perubahan nama. Selama tahun-tahun awal itu, pendekatan disebut “non-direktif”, sebuah istilah yang tidak begitu keren yang terus diasosiasikan dengan namanya untuk yang cukup lama. Kemudian, nama pendekatannya mulai diganti menjadi “client-centered”, “person-centered”, “student-centered”, dan “person to person”. Kita sendiri menggunakan istilah “client-centered” jika membahas sistem terapi Rogers, dan istilah person-centered jika membahas teori kepribadian Rogers.
a.       Asumsi-asumsi dasar
Rogers merumuskan dua asumsi besar, yaitu kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi.
a)      Kecenderungan formatif
Rogers (1978, 1980) yakin bahwa terdapat kecenderungan bagi semua hal, baik organis maupun anorganis, untuk berkembang dari suatu bentuk yang lebih sederhana menuju lebih kompleks. Bagi seluruh alam semesta ini, proses kreatiflah, jadi bukan proses disintegratif yang bekerja. Rogers menyebut proses ini kecenderungan formatif dan mengambil banyak contoh dari alam. Contohnya, galaksi bintang-bintang yang kompleks terbentuk dari massa yang awalnya kurang begitu terorganisasikan, kristal-kristal seperti butiran salju muncul dari uap yang tidak berbentuk, organisme yang kompleks berkembang dari satu sel tunggal, dan kesadaran manusia berkembang dari alam bawah sadar primitif menjadi alam sadar yang sangat terorganisasikan.
b)      Kecenderungan mengaktualisasi
Namun asumsi yang lebih signifikan dan menyentuh banyak hal adalah kecenderungan mengaktualisasi atau kecenderungan disemua manusia (hewan dan tumbuhan juga) untuk bergerak menuju pelengkapan atau pemenuhan potensi-potensi (Rogers, 1959, 1980). Kecenderungan ini satu-satunya motif yang dimiliki manusia. Kebutuhan untuk memuaskan rasa lapar, mengekspresikan emosi-emosi mendalam yang dirasakan, dan menerima diri seseorang, semuanya ini contoh motif tunggal aktualisasi. Karena seiap orang beroperasi sebagai satu organisme yang lengkap, maka aktualisasi melibatkan keseluruhan pribadi tersebut, fisiologis dan intelektual, rasional dan emosional, alam sadar dan bawah sadar.
b.      Diri dan aktualisasi diri
Menurut rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar-samar ketika satu porsi pengalaman mereka menjadi terpesonalkan dan terbedakan dalam kesadaran sebagai pengalaman ke-“aku”-an ke-“saya”-an.
Aktualisasi-diri berbeda dengan dari kecenderungan-mengaktualisasi karena keduanya tidak sinonim. Kecenderungan-mengaktualisasi mengacu pada penghayatan organismik terhadap individualitas, yakni mengacu pada keseluruhan pribadi-sadar dan bawah sadar, fisiologis, dan kognitif-sedangkan aktualisasi diri adalah kecenderung mengaktualisasikan diri seperti yang dipahaminya dalam kesadarannya. Rogers merumuskan subsistem diri menjadi dua yaitu, aktualisasi diri dan diri-ideal.
Konsep diri mencakup semua aspek keberadaan diri dan pengalaman seperti yang dipahami oleh kesadaran seorang individu, konsep-diri tidak sama dengan diri-organismik. Porsi diri-organismik bisa melampaui kesadaran seseorang, atau sebaliknya, dia tidak memiliki kesadaran semacam itu.
Diri ideal, didefinisikan sebagai pandangan seseorang tentang dirinya seperti yang diharapkannya demikian. Diri ideal mengandungsemua atribut yang biasanya positif, mendorong seseorang untuk memilikinya.
c.       Kesadaran (awareness)
Rogers (1959) mendefiinisikan kesadaran sebagai “representasi simbolik   (yang tidak mesti terperangkap dalam simbol-simbol verbal) dari sejumlah pengalaman kita”. Istilah kesadaran ini sering disinonimkan Rogers dengan alam sadar dan simbolisnya.
a)      Tingkat-tingkat kesadaran
Ø  Beberapa peristiwa dialami manusia dibawah ambang kesadararannya, danbisa diabaikan atau disangkal.
Ø  Sejumlah pengalaman disimbolkan secara akurat dan diakui dengan bebas menjadi bagian dari struktur-diri. Pengalaman seperti ini tidak begitu mengancam dan konsisten dengan konsep-diri yang sudah ada.
Ø  Kesadaran melihat pengalaman yang dipahami dalam bentuk terdistorsi. Saat pengalaman kita tidak konsisten dengan pandangan tentang diri, kita membentuk kembali atau mendistorsi pengalaman tersebut agar bisa disimilasikan kedalam konsep-diri kita yang ada.
c)      Penyangkalan terhadap pengalaman-pengalaman positif
Banyak orang mengalami kesulita untuk menerima pujian tulus dan dukungan positif, bahkan meskipun mereka layak mendapatkannya. Pujian meski dilontarkan dengan tulus, jarang memeberikan pengaruh positif bagi konsep-diri penerimannya. Pujian bisa terdistorsi karena pribadi tersebut tidak mempercayai pemberinnya, atau karea penerimannya merasa tidak layak mendapatkannya. Di semua kasus pujian dari orang lain juga mengandung hak pribadi penerimannya untuk mengkritik atau menuduh balik, dan karenannya pujian sering diangggap sebagai ancaman.(Rogers,1961).
d.      Menjadi seorang pribadi
Rogeres (1959) membahas proses yang di butuhkan untuk menjadi seorang pribadi. Yaitu seorang individu harus melakukan kontak-positif atau negatif- dengan pribadi lain.
Anggapan positif adalah prasyaratan bagi anggapan diri positif, di definisikan sebagai pangalaman menghargai atau menilai diri seseorang. Sumber angggapan diri positif, terletak dalam anggapan positif yang di terima dari orang lain, namun jika sekali saja kebutuhan terpenuhi, dia akan menjadi mandiri dan mencukupi dirinya sendiri.
e.       Penghalang-penghalang bagi kesehatan psikologis
·         Kondisi berharga
Sebagai pengganti dari menerima anggapan positif tanpa syarat, kebanyakan orang hanya menerima kondisi berharga saja. Kondisi berharga muncul ketika anggapan positif dari orang-orang penting bagi kita adalah bersyarat, ketika individu merasa bahwa dalam beberapa hal dia di hargai dan beberapa hal lain tidak. (Rogers, 1959,hlm.209).
·         Ketidak kongruenan
Ketidak seimbangan psikologis dimulai ketika kita gagal untuk menyadari pengalaman-pengalaman keorganisme-an kita sebagai pengalaman-diri: artinya jika kita tidak menyimbolkan secara akurat pengalaman penghayatan organismik tersebut menjadi kesadaran karena mereka tampak tidak konsisten dengan konsep diri kita.
Semaki besar ketidak kongruenan antar diri yang kita pahami dan penghayatan organismik kita, semakin rapuhlah diri kita. Jika kerapuhan datang saat kita tidak menyadari ketidakkongruenan diri kita, maka kecemasan dan ancaman akan di alami saat kita meraih kesadaran tentang ketidak kongruenan seperti itu.
·         Pertahanan diri
Pertahanan diri adalah perlindungan terhadap konsep-diri terhadap kecemasan dan ancaman lewat penyangkalan atau pendistorsian pengalaman-pengalaman yang konsisten dengannya. Dua pembelaan-diri yang utama adalah distorsi dan penyangkalan.
·         Disorganisai
Disorgisasi dapat muncul tiba-tiba, atau berlangsung secara bertahap untuk waktu yang cukup lama. Dalam kondisi disorganisasi ini orang kadang-kadang bersikap konsisten dengan penghayatan organismik mereka dan kadang-kadang bersesuaian dengan konsep-diri yang mereka lindungi.

D.     Psikoterapi
Terapi client-centered ingin agar pribadi yang rapuh atau cemas dapat tumbuh sehat secara psikologis, tetapi mereka harus menjalin kontak dengan terapis yang kongruen dan yang memahami terapis sebagai penyedia atmosfer penerimaan tanpa syarat dan empati akurat. Namun, kualitas kongruensi, anggapan positif tanpa syarat, dan pemahaman empatik tidak mudah untuk disediakan konselor.
Terapi ini dapat diproposisikan dalam bentuk jika-maka. Jika kondisi-kondisi kongruensi terapi, anggapan positif tanpa syarat, dan keakuratan empati hadir dalam hubungan klien-konselor, maka proses terapi akan terjadi dengan baik dan kemudian hasilnya akan dapat diprediksi. Terapi Rogerian dapat dilihat berdasarkan kondisi, proses, dan hasil-hasilnya.
a.       Kondisi-Kondisi
Kondisi-kondisi berikutdiperlukan dan harus cukup. Pertama, seorang klien yang cemas dan rapuh harus menjalin kontak dengan terapis yang kongruen yang memiliki empati dan anggapan positif tanpa-syarat terhadap dirinya. Kedua, klien harus memahami jika ciri ini (kongruen, berempati, dan beranggapan positif tanpa syarat) dimiliki oleh terapis. Ketiga, kontak antara klien dan terapis harus terjadi dalam durasi tertentu.
Signifikansi hipotesis Rogerian ini sangat revolusioner. Dihampir setiap terapi, kondisi pertama dan ketiga selalu muncul. Artinya klien termotivasi, dan hubungan klien dan terapis akan berlangsung dalam periode waktu tertentu.
Terapis client sentered unik dalam penekanannya bahwa kondisi kongruensi konselor, anggapa positif tanpa syarat, dan mendengarkan secara empatis dibutuhkan sekaligus menjadi alasan yang cukup. Meskipun kongruensi lebih mendasar.
a)      Kongruensi Konselor
Kongruensi muncul ketika penghayatan organismik seseorang cocok dengan kesadaran akan pengalaman-pengalaman tersebut, dan juga cocok dengan kemampuan dan kesediaan untuk mengekspresikan secara terbuka perasaan-perasaan ini (Rogers, 1980). Menjadi kongruen berarti menjadi apa adanya pribadi tersebut. Kalau begitu konselor yang kongruen itu tidak bersifat pasif, maupun statis. Mereka secara konstan terbuka kepada pengalaman-penghayatan organismik baru, namun menerima ini dengan kesadaran, dan jujur, yang memberikan kontribusi bagi pertumbuhan psikologisnya.
Karena kongruensi muncul dari perasaan, kesadaran, dan ekspresi. Maka ketidakkongruenan dapat muncul dari dua titik yang membedakan ketiga pengalaman itu. Pertama, karena keterputusan hubungan antara perasaan dan kesadaran. Seseorang tidak tahu kalau dirinya sedang marah, namun orang lain merasakan dengan jelas kalau dia sedang marah. Kedua,pertentangan antara kesadaran terhadap pengalaman, dan kemampuan atau kesediaan untuk mengekspresikannya kepada orang lain. Seseorang tahu kalau dirirnya sedang bosan, tapi tidak mampu mengekspresikannya kepada orang lain. Rogers (1961) menegaskan bahwa terapis akan lebih efektif kalau mereka mengekspresikan perasaan-perasaan mereka yang sebenarnya, meskipun perasaan itu bernada negatif atau mengancam. Semakin klien memahami setiap kualitas sebagai ciri terapis, semakin berhasil proses terapi jadinya.
b)      Anggapan Positif Tanpa-Syarat
Anggapan positif adalah kebutuhan untuk menjadi disukai, dihargai, atau diterima orang lain. Jika kebutuhan ini dipenuhi tanpa persyaratan maka akan muncul anggapan positif tanpa-syarat. Terapis memiliki anggapan positif tanpa-syarat ketika mereka "mengalami sikap hangat, positif, dan penuh penerimaan tehadap klien apa adanya dirinya. Sikap ini tanpa posesif, pengevaluasian atau persyaratan apapun.
Memiliki kehangatan yang tidak posesif berarti memerhatikan orang lain tanpa berkeinginan menguasai pribadi tersebut. Jenis sikap permisif, fakta bahwa aku memerhatikanmu tidak berarti aku harus menuntunmu membuat pilihan-pilihan, membuat Rogers memperoleh reputasi sebagai terapis yang pasif atau nondirective.
Meskipun anggapan positif tanpa-syarat merupakan istilah yang agak menakjubkan namun masing-masing dari ketiga kata ini memiliki proporsi penting. "Anggapan" berarti terjadi sebuah hubungan yang dekat dan bahwa terapis melihat klien sebagai pribadi yang penting; "Positif" berarti arah relasi ditujukan kepada perasaan hangat dan perhatian; dan "tanpa syarat" bararti anggapan positif ini tidak lagi bergantung pada tindakan tertentu klien yang harus terus-menerus diupayakan.
c)      Mendengarkan secara Empatik
Empati mucul saat terapis seraca akurat merasakan perasaan-perasaan klien dan sanggup mengkomunikasikan persepsi-persepsi ini sehingga klien tahu bahwa orang lain sudah memasuki dunia perasaan mereka tanpa prasangka, proyeksi, ataupun penghakiman.empati berarti bahwa terapis melihat hal-hal dari sudut pandang klien dan klien merasa aman. Mendengarkan secara empirik adalah piranti yang berpengaruh sangat kuat dan bersama dengan kesungguhan dan perhatian terapis, dapat memfasilitasi pertumbuhan kesehatan pribadi klien.
Empati tidak boleh dicampur dengan simpati. Simpati mengacu pada perasaan terhadap klien. Sedang empati mununjuk perasaan bersama klien. Simpati tidak pernah menjadi alat terapi yang baik karena dia berasal dari evaliasi eksternal dan biasanya mengarah kepada rasa penyesalan klien pada dirinya. Mengasihani diri ( self-pity) adalah sikap keliru yang mengancam konsep diri positif dan menciptakan ketidakseimbangan dalam struktur diri manusia. Karena itu, empati tidak menyuruh terapis memiliki perasaan yang sama seperti kliennya melainkan ia menyingkapkan kepada klien pengertian apa artinya pengalaman tersebut bagi klien pada momen tertentu.
b.      Proses
a)      Tahap-tahap Perubahan Terapi
1. Ketidakrelaan klien untuk mengkomunikasikan apapun tentang dirinya. Pribadi ditaham ini biasanya tidak mencari bantuan namun, jika untuk beberapa alasan mereka datang ke terapi, biasanya mereka sangat rigid dan resisten terhadap perubahan. Mereka tidak mengakui adanya masalah yang menimpanya dan menolak untuk mengungkapkan perasaan atau emosinya.
2. Klien menjad agak kurang ketat. Mereka mulai membahas peristiwa eksternal dan orang lain, tetapi masih tidak mengakui atau gagal memahami perasaan-perasaan mereka sendiri. Nemun, mereka sudah mulai dapat membahas tentang perasaan-perasaan pribadi seolah-olah perasaan itu fenomena objektif.
3. Mereka menjadi bebas untuk membahas tentang diri mereka, meskipun menjadi objek. Klien membicarakan perasaan-perasaan dan emosi-emosinya dengan menggunakan model kalimat past tense atau future tense, menghindarkan emosi dan perasaan saat ini.
4. Mulai membicarakan perasaan-perasaan lebih dalam namun tak satupun tentang yang dirasakan sekarang. Saat klien mengekspresikan perasaan-perasaannya saat ini, mereka biasanya terkejut dengan ungkapan ini. Mereka mungkin menyangkal atau mendistorsi pengalaman-pengalaman, meskipun memiliki juga beberapa kesadaran samar-samar bahwa mereka sanggup merasakan emosi di masa kini. Mereka mulai mempertanyakan sejumlah introyeksikannya dari orang lain, dan mereka mulai melihat ketidakkongruenan antara diri yang dipahami dan penghayatan organismiknya. Mereka menerima lebih banyak kebebasan dan tanggung jawab dari yang sudah mereka lakukan ditahap 3 dan mulai mengizinkan dirinya secara tentatif untuk terlibat dalam hubungan dengan terapis.
5. Klien mulai menjalani perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. Mereka dapat mengekspresikan perasaan-perasaan saat ini, meskipun tidak menyimbolkan secara akurat perasaan ini. Mereka mulai mengandalkan lokus internal evaluasi bagi perasaan mereka dan melakukan penemuan yang segar dan baru tentang diri mereka sendiri. Mereka juga mengalami pembedaan lebih besar perasaan-perasaan yang mengembangkan apresiasi yang lebih basar bagi nuansa-nuansa di antara mereka. Selain itu mereka mulai membuat keputusan-keputusan mereka sendiri dan menerima tanggung jawab bagi pilihan-pilihan mereka.
6. Mengalami pertumbuhan dramatis dan pergerakan yang tidak dapat dibalikkan lagi, menjadi berfungsi atau mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Mereka mengizinkan pengalaman-pengalaman yang sebelumnya disangkal atau didistorsi masuk kedalamkesadaran dengan bebas. Mereka menjadi lebih kongruen dan sanggup mencocokan pengalaman saat ini dengan kesadaran dan dapat mengekspresikan nya secara terbuka. Ereka tidak lagi mengevaluasi perilaku mereka dari sudut pndang eksternal melainkan mulai mengandalkan diri organismik mereka sebagai kriteria bagi pengevaluasian pengalaman. Mereka mulai mengembangakan anggapan diri tanpa syarat, yang artinya memiliki rasa perhatian dan sayang yang sejati bagi diri baru yang sudah terbentuk saat ini. Tambahan yang menarik bagi tahap ini adalah ralaksasi fisiologisnya. Klien dapat mengalami seluruh diri-organismik mereka, seperti mengendurnya urat syaraf, menglirnya air mata, perbaikan sirkulasi darah, dan kehilang simtom-simtom fisik. Tahap ini menjadi sinyal bagi tujuan terapi. Bahkan jika terapi berhenti di titik ini, klien akan terus bergerak maju ke tahap berikutnya.
7. Dapat terjadi diluar pertemuan, karena pertumbuhan ditahap 6 tidak dapat dibalikkan lagi. Klien yang mencapai tahap ini menjadi berfungsi sepenuhnya sebagai "pribadi hari esok". Mereka sanggup menggeneralisasi pengalaman-pengalaman terapi ke dunia diluar terapi. Mereka memiliki keyakinan untuk menjadi diri sendiri disemua waktu, untuk memiliki, dan merasakan secara mendalam totalitas pengalaman mereka, dan untuk menghidupkan pengalaman-pengalaman tersebut di masa kini. Klien ditahap ini menjadi kongruen, anggaan diri positif tanpa-syarat, dan sanggup mencintai dan memberikan empati kepada orang lain.
Penjelasan Teoritis bagi Perubahan Terapi
Ketika seseorang mulai mengalami diri mereka dihargai dan diterima tanpa syarat, mereka menyadari, mungkin untuk pertama kalinya bahwa mereka dicintai. Contoh yang diberikan terapis memampukan mereka untuk menghargai dan menerima diri mereka sendiri, memiliki penghargaan-diri positif tanpa syarat. Karena klien tahu bahwa mereka dipahamisecara empatis, mereka jadi terbebas untuk mendengarkan dirinya sendiri secara lebih akurat, memiliki empati bagi perasaannya sendiri, sehingga lebih kongruen.
c.       Hasil-Hasil
Hasil paling besar dari terapi client centred adalah klien menjadi kongruen, tidak legi defensif, dan lebih terbuka terhadap pengalaman. Karena klien menjadi kongruen dan tidak lagi defensif, mereka memiliki gambaran yang lebih jelas tentang dirinya, sebuah pandangan yang lebih realistik untuk menghadapi dunia.
Karena menjadi realistik maka klien memiliki pandangan yang lebih akurat mengenai potensi-potensi mereka, memampukan mereka menyempitkan jurang antara diri ideal dan diri riil.
Karena diri ideal dan diri riil lebih kongruen, maka klien mengalami ketegangan fisiologis dan psikologis yang semakin berkurang, kurang begitu rapuh terhadap ancaman, dan mengalami penurunan tingkat kecemasan.
Hubungan mereka dengan orang lain juga berubah. Mereka menjadi lebih menerima orang lain, membuat tuntutan yang lebih kecil, dan membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri. Anggapan diri positif yang sejati dan pemahaman emptik mereka akan terus berkembang di luar terapi, dan mereka menjadi lebih sanggup berparisipasi dalam hubungan lain yang mendorong pertumbuhan (Rogers, 1959, 1961).
E.     Teori Perubahan Terapi Rogers
Jika kondisi-kondisi berikut hadir:
1. Klien yang rapuh atau cemas
2. Menhubungi konselor yang memiliki
3. Kongruensi dalam hubungan
4. Anggapan positif tanpa-syarat terhadap klien
5. Pemahaman empatik terhadap kerangka acuan internal klien; dan
6. Klien memahami kondisi 3,4, dan 5- tiga kondisi yang dibutuhkan dan cukup bagi pertumbuhan terapi

Maka perubahan terapi akan terjadi dan klien akan:
1. Menjadi kurang kongruen;
2. Kurang begitu defensif;
3. Jadi lebih terbuka kepada pengalaman;
4. Memiliki pandangan yang lebih realistik terhadap dunia;
5. Mengembangkan anggapan diri yang positif
6. Menyempitkan jurang diri ideal dan diri-riil;
7. Tidak rapuh lagi terhadap ancaman;
8. Menjadi berkurang kecemasannya;
9. Mulai meresapi pengalaman-pengalamannya sendiri;
10. Menjadi lebih menerima keberadaan orang lain; dan
11. Menjadi lebih kongruen dalam hubungannya dengan orang lain.

F.      Manusia Masa Depan
Keterikatan yang ditujukan Rogers pada seseorang yang sehat secara psikologis memiliki pertentangan hanya dengan pandangan Maslow. Maslow pada dasarnya merupakan peneliti, sedangkan Rogers utamanya adalah psikoterapis yang perhatiannya terhadap manusia yang sehat secara psikologis tumbuh dari teori umum terapinya. Pada tahun 1951, Rogers pertama kali mengemukakan “karakteristik dari kepribadian yang telah termodifikasi”, ia kemudian memperluas pada konsep manusia yang berfungsi sepenuhnya dalam sebuah jurnal yang tidak dipublikasikan (Rogers dalam Feist). Pada tahun 1959, teorinya tentang kepribadian yang sehat dijelaskan dalam seri buku Koch, dan ia sering kembali ke topik selama awal tahun 1960-an ( Rogers dalam Feist). Beberapa saat setelahnya, ia kemudian mendeskripsikan tentang dunia masa depan dan manusia masa depan (Rogers dalam Feist)
Tipe orang yang akan muncul sebagai keluaran adalah, pertama, orang yang sehat secara psikologis akan lebih mudah beradaptasi. Oleh karena itu, sudut pandang evolusi, mereka mempunyai kemungkinan untuk bertahan inilah yang mendasari judul “manusia masa depan”. Kedua, manusia-manusia masa depan akan lebih terbuka atas pengalaman-pengalaman mereka, secara akurat mensimbolisasikan pengalaman tersebut dalam kesadaran daripada melakukan penyangkalan dan distorsi. Karakteristik terkait dari manusia masa depan adalah kepercayaan mereka atas diri organismik mereka. Ketiga, kecenderungan untuk hidup sepenuhnya pada masa sekarang. Oleh karena orang-orang tersebut lebih terbuka terhadap pengalamannya, mereka akan mengalami kondisi perubahan yang konstan. Keempat, manusia masa depan akan tetap percaya terhadap kemampuan diri mereka untuk merasakan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Mereka tidak akan merasa perlu untuk disukai atau dicintai oleh semua orang karena tahu bahwa mereka dihargai  dan diterima oleh seseorang. Kelima, manusia masa depan akan lebih terintegrasi, lebih utuh, tanpa batasan-batasan buatan antara proses kognitif yang dilakukan secara sadar ataupun tidak. Keenam, manusia masa depan mempunyai kepercayaan pada kemanusiaan. Mereka tidak akan menyakiti orang lain hanya untuk kepentingan pribadi, peduli pada orang lain dan akan siap membantu apabila diperlukan. Terakhir, karena manusia masa depan terbuka dengan semua pengalaman, mereka akan lebih menikmati kekayaan hidup daripada orang lain. Mereka tidak mendistorsi stimulus internal maupun menahan emosi mereka.
G.    Filosofi Ilmu Pengetahuan
Menurut Rogers (dalam Feist), ilmu pengetahuan bermula dan berakhir dengan pengalaman subjektif walaupun semua yang ada diantara harus objektif dan empiris. Ilmuwan harus mempunyai karakteristik manusia masa depan, yaitu mereka harus terdorong untuk melihat ke dalam, untuk selaras dengan perasaan dan nilai internal, untuk dapat menjadi intuitif dan kreatif, untuk terbuka pada pengalaman, untuk menerima perubahan, untuk mempunyai pandangan yang baru, serta untuk memiliki kepercayaan yang penuh atas diri mereka.
Rogers (dalam Feist) meyakini bahwa ilmuwan harus secara utuh terlibat dalam fenomena yang sedang mereka kaji. Ilmu pengetahuan dimulai saat seorang ilmuwan yang intuitif mulai untuk melihat suatu pola dalam sebuah fenomena. Pada titik ini, metodologi mulai masuk dalam gambaran besar. Walaupun kreatifitas dari ilmuwan dapat membuahkan metode penelitian yang inovatif, prosedur tersebut harus secara ketatdikontrol, empiris, dan objektif. Ilmuwan kemudian mengomunikasikan penemuan dari metode tersebut kepada orang lain, tetapi komunikasi tersebut akan bersifat  subjektif.
H.    The Chicago Studies
Sejalan dengan filosofi ilmu pengetahuannya, Rogers tidak memperbolehkan metodologi untuk mendikte bentuk penelitiannya. Dalam penelitian atas hasil dari psikoterapi yang berpusat pada klien, pertama di Pusat Konseling di Universitas of Chicago (Rogers&Dymond dalam Feist) dan kemudian dengan pasien Skizofrenia di University of Wisconsin (Rogers, Gedlin, Kiesler&Truax dalam Feist), ia dan koleganya membiarkan permasalahan mempunyai tempat sebelum metodologi dan pengukuran. Mereka tidak merumuskan hipotesis hanya karena alat ukurnya sudah tersedia. Tujuan dari Chicago Studies adalah untuk meneliti proses dan hasil dari terapi yang berpusat pada klien.
a.       Hipotesis
Penelitian pada University of Chicago Counseling Center dibangun dengan landasan hipotesis dasar yang berpusat pada klien, yang menyatakan bahwa semua orang memiliki, di dalam diri mereka, kapasitas, baik bersifat aktif maupun laten, untuk melakukan pemahaman diri serta kapasitas dan kecenderungan untuk bergerak menuju aktualisasi diri dan kematangan pribadi. Kecenderungan inilah yang akan dapat disadari apabila terapis menciptakan suasana psikologis yang sesuai. Lebih spesfiknya, Rogers (dalam Feist) berhipotesis bahwa selama terapi, klien akan mengasimilasikan perasaan dan pengalaman yang pernah mereka tolak ke dalam kesadaran. Ia juga memprediksikan bahwa selama dan setalah terapi, perbedaan antara diri yang sebenarnya dengan diri ideal dapat berkurang serta dapat diobservasi perilaku-perilaku, seperti lebih bersosialisasi, lebih menerima diri sendiri, dan lebih menerima orang lain. Hipotesis ini kemudian menjadi landasan dari beberapa hipotesis lain yang spesifik, yang secara operasional telah dinyatakan dan diuji.
b.      Metode
Untuk dapat mengkaji perubahan dari sudut pandang eksternal, peneliti menggunakan Thematic Apperception Test (TAT), The Self-Other Attitude Scale (S-O Scale), dan Willoughby Emotional Maturity Scale (E-M Scale). Instrument TAT, tes kepribadian objektif yang dikembangkan oleh Henry Murray (dalam Feist), digunakan untuk melakukan tes pada hipotesis yang membutuhkan diagnosis klinis yang standart, S-O Scale, instrument yang dikumpulkan di Counseling Center dari beberapa sumber yang telah lebih dahulu didapatkan, untuk mengukur tren anti demokrasi dan etnosentrisme, E-M Scale digunakan untuk membandingkan deskripsi dari perilaku dan kematangan emosi klien yang dilihat oleh dua teman dekat dan klien sendiri.
c.       Temuan-Temuan
Peneliti menemukan bahwa kelompok terapi menunjukkan berkurangnya pertentangan antara diri riil dan diri ideal setelah terapi diberikan, dan mereka masih dapat mempertahankan semua hal yang sudah dicapai terapi selama periode follow­-up. Seperti diduga, kelompok pengontrol “orang-orang” normal memiliki tingkat kongruensi lebih tinggi dari pada kelompok terapi di awal studi, namun terbalik dengan kelompok terapi, mereka hampir-hampir tidak menunjukkan perubahan kongruensi dari tes awal hingga periode follow-up.
Selain  itu, kelompok terapi juga mengubah konsep diri mereka lebih sering ketimbang mengubah persepsi diri mereka lebih sering ketimbang mengubah persepsi mereka tentang orang lain secara umum. Artinya meskipun klien menunjukkan sedikit saja perubahan dalam konsep tentang bagaimana tentang bagaimana rata-rata pribadi pada umumnya, namun mereka lebih menunjukkan perubahan yang mencolok bagi persepsi tentang diri mereka sendiri. Dengan kata lain, wawasan intelektual bukan hasil pertumbuhan psikologis (Rudikoff, dalam J. feist).
Umumnya, teman-teman mereka melaporkan tidak ada perubahan perilaku signifikan pada diri klien sejak periode pra-terapi hingga pasca-terapi. Namun begitu peratingan global mengenai tidak adanya perubahan ini tampaknya berkaitan dengan efek penyeimbangan. Klien dinilai terapis mereka memiliki skor lebih tinggi dalam perbaikan kedewasaan pasca terapi dibandingkan penilaian teman-teman mereka. Menariknya, sebelum menjalani terapi, klien umumnya menilai diri mereka kurang matang ketimbang penilaian teman-teman atas diri mereka namun, seiring kemajuan terapi, mereka mulai memberikan terapi, mereka mulai memberikan rating diri lebih tinggi dan kemudian menjadi sama dengan penilaian teman-teman mereka. Sementara itu, para partisipan di kelompok pengontrol tidak menunjukkan perubahan nilai yang signifikan selama studi kedewasaan emosional oleh teman-teman mereka (Rogers & Dymond, 1954).
d.      Ringkasan Hasil
Studi-studi Chicago membuktikan bahwa pribadi yang menjalani terapi memulai client-centered umumnya menunjukkan sejumlah pertumbuhan atau perbaikan. Namun begiitu, perbaikan ini masih belum optimum. Kelompok terapi memulai treatment (perlakuan) sebagai pribadi yang kurang begitu sehat ketimbang kelompok control, menunjukkan pertumbuhan psikologis selama terapi berlangsung, dan masih mempertahankan sebagian besar perbaikan selama periode follow-up. Namun tetap saja mereka tidak bisa mencapai tingkat kesehatan psikologis seperti yang ditunjukkan orang-orang “normal” di kelompok control.
Dengan kata lain, hasil-hasil Studi Chicago menunjukkan bahwa pribadi yang menerima terapi client-centered mungkin tidak pernah dapat mendekati Tahap 7 seperti yang dihipotesiskan Rogers dalam diskusi kita sebelumnya. Ekspektasi paling realistik hanyalah klien dapat berkembang sampai Tahap 3 atau 4 saja. Terapi client-centered memang efektif namun, tidak bisa menghasilkan pribadi yang berfungsi seutuhnya seperti yang diharapkan penggagas terapi ini.
I.       Riset-Riset Terkait

Riset awal Carl Rogers mengenai tiga kondisi yang dibutuhkan dan cukup bagi pertumbuhan psikologis bisa dianggap sebagai perintis bagi psikologis positif. Sejak saat itu, peneliti lain (seperti Cramer,1989,1994, 2002, Truax & Carkhuff, 1967) sudah menemukan dukungan bagi tiga kondisi fakultatif Rogers ini. Sejak riset yang dilakukan Rogers sendiri, beragam aspek teorinya sudah mendapatkan sejumlah besar perhatian empiris, contohnya hubungan antara anggapan positif tanpa-syarat denga hubungan antara anggapan positif tanpa-syarat dengan hubungan romantis, dan hubungan antara diri-ideal dan diri-riil.