Kamis, 01 Januari 2015

STEREOTIPE INDIVIDU

Stereotipe adalah pendapat atau prasangka mengenai orang-orang dari kelompok tertentu, dimana pendapat tersebut hanya didasarkan bahwa orang-orang tersebut termasuk dalam kelompok tertentu tersebut.
Stereotip individu adalah suatu kepercayaan yang dilebih-lebihkan atau keyakinan yang berkaitan dengan suatu kategori manusia atau suatu generalisasi yang berlebihan mengenia ciri-ciri suatau individu tertentu.
Stereotip muncul karena individu suka mencari kesamaan pada suatu keadaan tertentu dan tidak dapat menilai dan mengalami sekaligus dua hal yang berbeda di tempat yang berbeda secara bersamaan. Dengan demikian, stereotip merupakan cara ampuh untuk melihat keadaan dengan cara yang efisien, yang dengan cara mencocok-cocokan.  Stereotip sudah ada sejak zaman purbakala dulu.
Setidaknya ada beberapa sebab munculnya stereotip:
1.        Manusia ingin menyederhanakan dalam melihat realitas dunia yang kompleks. Keterbatasan manusia memahami sesuatu yang kompleks membuatnya mencari persamaan-persamaan yang ada lalu memberi penilaian dengan pandangan yang sudah terbentuk dalam pikirannya
2.        Manusia membutuhkan cara yang efisien dan ekonomis untuk membentuk gambaran dunia sekitarnya
3.        Manusia membutuhkan pertahanan diri lalu menggunakan stereotip untuk menutupi kelemahannya.
4.        Manusia tidak mungkin mendapatkan informasi yang menyeluruh terhadap keadaan-keadaan yang ada. Dengan itu manusia membutuhkan informasi-informasi dari pihak lain dan menyadarkan pandangannyaterhadap informasi yang ia terima, lalu muncullah stereotip.
Sebagian orang menganggap segala bentuk stereotipe negatif padahal faktanya stereotipe dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang stereotipe dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang.
Setiap orang atau masyarakat memiliki pandangan terhadap seorang individu, dan pandangan tersebut meluas dan membentuk stigma tersendiri yang disematkan kepada individu, berdasarkan usia , gender, ras, etnis, dan status sosial ekonomi.
1.              USIA
Hubungan antara usia dan kemampuan kerja menjadi persoalan-persoalan yang kian penting selama dasawarsa terakhir. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, berkembang luas kepercayan bahwa kemampuan kerja akan berkurang sejalan dengan bertambahnya usia. Kedua, bahwa realitas kekuatan kerja sesuai dengan usia. Dan yang ketiga di Indonesia untuk pekerjaan guru pengunduran diri pada usia 60 tahun.
2.              GENDER
Stereotip gender adalah kategori luas yang merefleksikan kesan dan keyakinan tentang apa perilaku yang tepat untuk pria dan wanita.
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkinkan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
Sebagian orang mengatakan adanya perbedaan penting antara laki-laki dengan perempuan yang dapat mempenagruhi performasi kerja yaitu dalam hal: kemampuan memecahkan masalah, keterampilan menganalisis, motivasi, keramahan (suka bergaul), dorongan kompetisi, dan kemampuan belajar. Namun kenyataannya perbedaan tersebut tidak konsisten. Dari hasil studi para psikolog telah ditemukan bahwa kebanyakan wanita lebih mau menyesuaikan diri pada kewenangan, dan laki-laki lebih agresif dan lebih ambisius dalam mencapai kesuksesan: akan tetapi skali lagi perbedaan ini sangat kecil.
3.              RAS
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
4.              ETNIS
Berikut adalah beberapa stereotipe mengenai etnis-etnis di Indonesia, baik dari ingroup maupun outgroup.
Batak
-      Orang Batak dikatakan suka berbicara dengan suara yang keras agar diperhatikan orang lain (bahkan ada yang mengidentikkan suka berbicara ini dengan suka membual).
-      Orang Batak itu pemberani dan agresif, mereka berani dalam mengemukakan pendapat sendiri walaupun mereka berada di dalam kedudukan minoritas, orang batak tidak  akan terkalahkan oleh kaum yang mayoritas.
-      Orang Batak itu kasar, ini tampak dari kebiasaan mereka yang suka berbicara keras-keras dan suka berkelahi di depan orang lain dan pernyataan ini di dukung dengan perawakan mereka misalnya bentuk dan ekspresi muka.
Jawa
Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai sukubangsa yang sopan dan halus. Tetapi mereka juga terkenal sebagai sukubangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.
Minang
  Bicara tentang Minang berarti bicara tentang Islam. Sebab orang Minang itu bisa dikatakan semuanya memeluk Islam. Orang  Minang yang tidak Islam itu secara etnis tetap Minang, tapi dia “dilempar” dari sukunya. Ada dua tali di Minangkabau, yaitu tali darah dan tali adat. Tali darahnya Islam, dan tali adatnya budaya Minang.
  Sikap dagangnya kuat, tidak ada tawar menawar bagi mereka.

Tiong Hoa
-    Orang Tiong Hoa rajin, ulet dan serius.
  Etnis tiong hoa di Indonesia dan di seluruh dunia itu sudah sebagai perantau sejak ratusan tahun yang lalu. Mau tak mau mereka menjadi rajin dan ulet. Semakin hidup sulit semakin ulet, kalau tidak akan putus karena mereka mengalami diskriminasi di negara orang lain. Kalau etnis tiong hoa di negaranya sendiri mungkin juga ada yang malas karena merasa santai di negeri sendiri. Karena keuletannya tersebut semua etnis tiong hoa dianggap kelas menengah ke atas, dianggap orang kaya. Padahal dalam struktur sosial China, menjadi pedagang adalah pekerjaan yang paling rendah disana.

Aceh
-      Etnis aceh memiliki rasa kesukuan yang sangat menonjol (sukuisme/provinsialisme), membanggakan sesama etnisnya, dan saling menjunjung tinggi adat dan agama. Contohnya saja masih berlakunya syari’ah islam.
-      Orang aceh berwatak keras, ingin menang sendiri, dan egois.
-      Etnis aceh berdarah panas atau suka marah-marah dan mau menang sendiri.
5.      STATUS SOSIAL EKONOM

Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku seseorang.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tuliskan pesan anda dengan baik