Stereotipe
adalah pendapat atau prasangka mengenai orang-orang dari kelompok tertentu,
dimana pendapat tersebut hanya didasarkan bahwa orang-orang tersebut termasuk
dalam kelompok tertentu tersebut.
Stereotip
individu adalah suatu kepercayaan yang dilebih-lebihkan atau keyakinan yang
berkaitan dengan suatu kategori manusia atau suatu generalisasi yang berlebihan
mengenia ciri-ciri suatau individu tertentu.
Stereotip
muncul karena individu suka mencari kesamaan pada suatu keadaan tertentu dan
tidak dapat menilai dan mengalami sekaligus dua hal yang berbeda di tempat yang
berbeda secara bersamaan. Dengan demikian, stereotip merupakan cara ampuh untuk
melihat keadaan dengan cara yang efisien, yang dengan cara mencocok-cocokan. Stereotip sudah ada sejak zaman purbakala
dulu.
Setidaknya
ada beberapa sebab munculnya stereotip:
1.
Manusia ingin
menyederhanakan dalam melihat realitas dunia yang kompleks. Keterbatasan
manusia memahami sesuatu yang kompleks membuatnya mencari persamaan-persamaan
yang ada lalu memberi penilaian dengan pandangan yang sudah terbentuk dalam
pikirannya
2.
Manusia membutuhkan
cara yang efisien dan ekonomis untuk membentuk gambaran dunia sekitarnya
3.
Manusia membutuhkan
pertahanan diri lalu menggunakan stereotip untuk menutupi kelemahannya.
4.
Manusia tidak mungkin
mendapatkan informasi yang menyeluruh terhadap keadaan-keadaan yang ada. Dengan
itu manusia membutuhkan informasi-informasi dari pihak lain dan menyadarkan
pandangannyaterhadap informasi yang ia terima, lalu muncullah stereotip.
Sebagian
orang menganggap segala bentuk stereotipe negatif padahal faktanya stereotipe
dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang stereotipe
dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Stereotipe jarang
sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan
sepenuhnya dikarang-karang.
Setiap
orang atau masyarakat memiliki pandangan terhadap seorang individu, dan
pandangan tersebut meluas dan membentuk stigma tersendiri yang disematkan
kepada individu, berdasarkan usia , gender, ras, etnis, dan status sosial
ekonomi.
1.
USIA
Hubungan antara usia dan kemampuan kerja
menjadi persoalan-persoalan yang kian penting selama dasawarsa terakhir.
Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, berkembang luas kepercayan bahwa kemampuan
kerja akan berkurang sejalan dengan bertambahnya usia. Kedua, bahwa realitas
kekuatan kerja sesuai dengan usia. Dan yang ketiga di Indonesia untuk pekerjaan guru pengunduran diri pada usia 60 tahun.
2.
GENDER
Stereotip gender
adalah kategori luas yang merefleksikan kesan dan keyakinan
tentang apa perilaku
yang tepat untuk pria
dan wanita.
Perbedaan
perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan
pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa
dimungkinkan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun
norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan,
sedangkan orang laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan
rasional.
Sebagian
orang mengatakan adanya perbedaan penting antara laki-laki dengan perempuan
yang dapat mempenagruhi performasi kerja yaitu dalam hal: kemampuan memecahkan
masalah, keterampilan
menganalisis, motivasi, keramahan (suka bergaul), dorongan kompetisi, dan
kemampuan belajar. Namun kenyataannya perbedaan tersebut tidak konsisten. Dari
hasil studi para psikolog telah ditemukan bahwa kebanyakan wanita lebih mau
menyesuaikan diri pada kewenangan, dan laki-laki lebih agresif dan lebih
ambisius dalam mencapai kesuksesan: akan tetapi skali lagi perbedaan ini sangat
kecil.
3.
RAS
Setiap ras
yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas ini
berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku
ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam
kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong,
agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian pula
beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
4.
ETNIS
Berikut
adalah beberapa stereotipe mengenai etnis-etnis di Indonesia, baik dari ingroup
maupun outgroup.
Batak
-
Orang Batak dikatakan suka berbicara
dengan suara yang keras agar diperhatikan orang lain (bahkan ada yang
mengidentikkan suka berbicara ini dengan suka membual).
-
Orang Batak itu pemberani dan agresif,
mereka berani dalam mengemukakan pendapat sendiri walaupun mereka berada di
dalam kedudukan minoritas, orang batak tidak akan terkalahkan oleh kaum
yang mayoritas.
-
Orang Batak itu kasar, ini tampak dari
kebiasaan mereka yang suka berbicara keras-keras dan suka berkelahi di depan
orang lain dan pernyataan ini di dukung dengan perawakan mereka misalnya bentuk
dan ekspresi muka.
Jawa
Orang Jawa
memiliki stereotipe sebagai sukubangsa yang sopan dan halus. Tetapi mereka juga
terkenal sebagai sukubangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini
konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian
dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak
membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.
Minang
-
Bicara
tentang Minang berarti bicara tentang Islam. Sebab orang Minang itu bisa
dikatakan semuanya memeluk Islam. Orang Minang yang tidak Islam itu secara
etnis tetap Minang, tapi dia “dilempar” dari sukunya. Ada dua tali di
Minangkabau, yaitu tali darah dan tali adat. Tali darahnya Islam, dan tali
adatnya budaya Minang.
-
Sikap
dagangnya kuat, tidak ada tawar menawar bagi mereka.
Tiong
Hoa
-
Orang
Tiong Hoa rajin, ulet dan serius.
-
Etnis
tiong hoa di Indonesia dan di seluruh dunia itu sudah sebagai perantau sejak
ratusan tahun yang lalu. Mau tak mau mereka menjadi rajin dan ulet. Semakin
hidup sulit semakin ulet, kalau tidak akan putus karena mereka mengalami
diskriminasi di negara orang lain. Kalau etnis tiong hoa di negaranya sendiri
mungkin juga ada yang malas karena merasa santai di negeri sendiri. Karena
keuletannya tersebut semua etnis tiong hoa dianggap kelas menengah ke atas,
dianggap orang kaya. Padahal dalam struktur sosial China, menjadi pedagang
adalah pekerjaan yang paling rendah disana.
Aceh
- Etnis aceh memiliki rasa kesukuan yang
sangat menonjol (sukuisme/provinsialisme), membanggakan sesama etnisnya, dan
saling menjunjung tinggi adat dan agama. Contohnya saja masih berlakunya
syari’ah islam.
-
Orang aceh berwatak keras, ingin
menang sendiri, dan egois.
-
Etnis aceh berdarah panas atau suka
marah-marah dan mau menang sendiri.
5.
STATUS SOSIAL EKONOM
Status
sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang
diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi perilaku seseorang.






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan tuliskan pesan anda dengan baik